Hubungan Depresi dengan Status Gizi

DEPRESI DENGAN STATUS GIZI ADA HUBUNGANNYA LOH!!

Oleh  : Nira Nurliani
Nim : C1AA18081
Kelas : 1A S1 Keperawatan 

Mari kita simak beberapa pengertiannya….

DEPRESI

Depresi merupakan masalah kesehatan jiwa yang utama dewasa ini. Hal ini penting karena orang dengan depresi produktivitasnya akan menurun dan dampaknya buruk bagi masyarakat. Depresi adalah penyebab utama tindakan bunuh diri. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan angka 17% pasien-pasien yang berobat ke dokter adalah pasien dengan depresi dan selanjutnya diperkirakan prevalensi depresi pada populasi masyarakat dunia adalah 3% (Hawari, 2013) dalam (Angraini DI, 2014), berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa depresi memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan status gizi. Pada semua kategori depresi, responden sebagian besar memiliki status gizi normal, yang persentase terbesar pada depresi sedang yaitu sebesar 69,56%. 

Depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang dipengaruhi oleh stress psikososial. Depresi dapat berupa gejala, sindrom dan diagnosis; tergantung sejauh mana stresor psikososial yang dialami oleh seseorang  mempengaruhi diri orang tersebut, menurut Marchira et al. (2007) dalam (Angraini DI, 2014).

Depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang dipengaruhi oleh stresor psikososial. Kemampuan stresor psikososial untuk bisa mencetuskan terjadinya gangguan jiwa tergantung pada potensi stresor, maturitas, pendidikan, kondisi fisik, tipe kepribadian, sosiobudaya lingkungan dan situasi (Marchira et al., 2007). Efek stres dalam bentuk gangguan psikologis mungkin tidak timbul pada individu tertentu, walaupun yang bersangkutan terpapar stresor cukup besar. Hal ini disebabkan adanya sumber-sumber penanggulangan terhadap stres, seperti: dukungan keluarga, teman, masyarakat dan lingkungan komunitas individu yang bersangkutan (Tirta dkk, 2010) dalam (Angraini DI, 2014).

Berdasarkan penelitian jurnal ini memang persentase terbesar responden tidak mengalami depresi, tetapi apabila dilihat berdasarkan depresi atau tidak ternyata persentase depresi (baik depresi ringan maupun sedang) lebih besar yaitu 59,41%. Angka ini lebih besar daripada prevalensi depresi orang dewasa di Indonesia yaitu sebesar 11,86% (Balitbangkes Depkes RI, 2008).

Orang-orang yang menderita depresi memiliki kecenderungan tidak memperhatikan pola makan dan aktivitas fisiknya berkurang sehingga mengakibatkan berat badan menjadi naik dan menjadi gemuk (Surilena & Agus, 2006) dalam (Angraini DI, 2014). 

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi depresi antara lain adalah faktor genetik, pengalaman hidup, kehilangan hubungan yang bermakna, dan kebiasaan kognitif (Wade dan Tavris, 2009) dalam (Hasna Rosida Putri, Triska Susila & Nindya, 2019). 

Depresi adalah salah satu gangguan mental yang paling umum dan penyebab kecacatan diseluruh dunia, lima orang dewasa mengalami episode depresi selama seumur hidup mereka (organisasi kesehatan dunia (WHO), 2012). WHO telah menyatakan bahwa meneliti anteseden adalah prioritas utama untuk mencegah depresi dan meningkatkan program perawatan (Lopez, Mathers, Ezzati, Jamison, & Murray, 2006) dalam (Tom Postmes, dkk, 2018).

Depresi dikaitkan dengan gangguan fungsi fisik, social, dan pekerjaan (McKnight & Kashdan, 2009) dalam (Tom Postmes, dkk, 2018). 

STATUS GIZI

Dari hasil penelitian pada jurnal Angraini DI 2014 ini, Status gizi responden sebagian besar tergolong normal, dan sisanya sebesar 40,59% tergolong malnutrisi, baik gizi kurang, overweight atau kegemukan. Masalah gizi kurang pada remaja dapat diakibatkan oleh diet yang ketat (yang menyebabkan remaja kurang mendapat makanan yang seimbang dan bergizi), kebiasaan makan yang buruk, dan kurangnya pengetahuan gizi dan adanya gangguan stres seperti depresi dan cemas. Hal tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak antara lain menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena penyakit (Soekirman, 2000).

Status gizi didefinisikan sebagai keadaan tubuh yang merupakan akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi dibedakan antara status gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, gizi lebih, dan obesitas. Beberapa bentuk dari gizi kurang yaitu berat badan kurang (underweight), pendek (stunting), kurus (wasting), dan defisiensi mikronutrien sedangkan gizi lebih dapat berupa berat badan lebih (overweight) atau obesitas, dalam (Inrike Y. S. Simarmata, Max F. J. Mantik, & Novie H.Rampengan, 2017) dalam jurnal ini mengatakan bahwa masalah kurang gizi masih tersebar luas di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada sisi lain, masalah gizi lebih yang merupakan masalah gizi di negara maju mulai terlihat di negara-negara berkembang.

Ketidakseimbangan gizi juga dapat disebabkan tidak sesuainya jumlah tidur dikarenakan dihambatnya regulasi nafsu makan dan perubahan produksi hormone, dalam (Inrike Y. S. Simarmata, Max F. J. Mantik, & Novie H.Rampengan, 2017).

Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi lansia adalah status depresi. Lansia yang mengalami depresi berisiko sangat tinggi mengalami status gizi kurang dan sebaliknya, lansia dengan status gizi kurang memiliki risiko depresi yang lebih tinggi  (Torres et al., 2010) Berdasarkan penelitian secara umum, lansia yang dijadikan sebagai responden penelitian. Kelompok kasus berusia 60-90 tahun, sementara itu pada kelompok kontrol berumur 60-74 tahun. Kelompok usia ini yang tergolong kedalam kategori usia lanjut. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memiliki umur yang masuk kedalam kategori lansia awal. Seseorang yang masuk kedalam siklus lansia akan berisiko tinggi mengalami masalah gizi, dalam (Hasna Rosida Putri, Triska Susila & Nindya, 2019).

Pengumpulan data karakteristik responden seperti usia, jenis kelamin, riwayat pendidikan, dan status pernikahan diperoleh dari gizi. Oleh karena itu, umur merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap status gizi seseorang (Oktariyani, 2012) dalam (Hasna Rosida Putri, Triska Susila & Nindya). 

Salah satu akibat depresi adalah hilangnya nafsu makan, sehingga memicu terjadinya penurunan berat badan pada lansia. Selain itu, motivasi lansia dalam membeli dan menyiapkan makanan berkurang. Hal ini yang menyebabkan lansia mengalami penurunan berat badan dan memiliki risiko yang tinggi mengalami status gizi kurang (Prasetyo et al., 2016) dalam (Hasna Rosida Putri, Triska Susila & Nindya, 2019). 

Nutrisi adalah bagian penting dari perkembangan manusia, yang memiliki kontibusi dalam menciptakan manusia yang berkualitas sumberdaya (Baliwati, Khomsan, & Dwiriani, 2004). Nutrisi adalah kesehatan yang penting komponen sector dan itu perlu serius di perhatian dari pemerintah, masalah nutrisi seperti kurang gizi atau nutrisi yang berlebihan, bias memicu beragam masalah, termasuk pertumbuhan, perkembangan, masalah intelektual, dan produktivitas, dalam (Riezky Faisal Nugroho, Diffah Hanim, & Yulia Lanti Retno Dewi, 2018). 













DAFTAR PUSTAKA

Laksmita Dwana, & Nugroho Abikusno, (2018). hubungan antara konsumsi  vitamin d dan gangguan depresi pada lanjut usia. Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Vol 1, No 3. 

Hasna Rosida Putri, Triska Susila & Nindya (2019). hubungan kecenderungan  depresi dengan status gizi pada lansia di uptd griya werdha surabaya, Media Gizi Indonesia. 2019.14(1):87-94. 

Inrike Y. S. Simarmata, Max F. J. Mantik, Novie H.Rampengan (2017). hubungan status gizi dan gangguan tidur pada anak sekolah dasar di kecamatan tikala manado, Jurnal e-Clinic (eCl), Vol 5, No 2.

Riezka Faisal Nugroho, Diffah Hanim, Yulia Lanti Retno Dewi, (2018). Psychosocial stress, energy and calcium intake are associated with nutritional status of female adolescents. Jurnal Keperawatan Soedirman, 13 (2): 92-99.

Tom Poestmes, Lenka J Wichmann, Anne M van Valkengoed, & Hanneke van der Hoef. (2018). social identification and depression : a meta-analysis. European Journal of Social Psychology 49 : 110-126. 











Komentar

  1. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  2. Bermanfaat banget nih buat yg lgi ada masalah atau banyak fikiran dan masuk ke dalam kategori depresi mungkin? Terima kasih ilmunya niraaa❤

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. this is so important who one that have anxiety, good stuff! healthy greetings always!๐Ÿ’™

    BalasHapus
  5. Sangat bermanfaat ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  7. Ternyata status gizi berpengaruh ya terhadap depresi. Sangat menarik

    BalasHapus
  8. Terimakasih, sangat bermanfaat๐Ÿ˜Š

    BalasHapus

Posting Komentar